“Disitu, dimana Neng ?”, suami saya akhirnya melengkapi pertanyaannya. Sebetulnya pertanyaan “disitu, dimana?” sangat lumrah dirumah orang tua saya. Entah karena kebiasaan, yang terlalu lama akhirnya jadi membudaya. Sedari dahulu, kebiasaan kita sebagai anak-anak papah, akan selalu menjawab “Disitu”, (hahahaha…..totally variable) untuk setiap pertanyaan yang mempertanyakan lokasi atau tempat.
Misalnya kalau papah bertanya “Kunci pintu tengah dimana yach”, siapapun yang mendengar (mau itu saya, adik, kakak bahkan mama) akan menjawab “DISITU”, dan papa akan mencari-cari karena biasanya kita menjawab tetapi tidak menunjukan arah dengan mata, maupun tunjukan tangan, malah lebih sering menjawab setengah berteriak dari kamar, atau dapur, atau garasi, atau teras, sekenanya saja.
Sampai pertanyaan sama berulang “Disitu, Dimana???”, dan si orang yang menjawab ‘Disitu’ harus bertanggung jawab melanjutkan jawabannya, biasanya dengan jawaban “Diatas VCD”, atau “hmmm, diatas buffet kali”, atau “ya disitu lah”…..(sekali lagi sekenanya) dan papah akan melanjutkan “Gak ada, dimana sich?”, dan kembali lagi dijawab “biasanya sich disitu”, atau “hmmm, kayaknya sich liat disitu, tapi kok gak ada yach ? “.
Hahahahaha…pasti bingung kan kenapa bisa begitu. Saya berfikir sepertinya kebiasaan ini muncul karena sifat keras papah saya. Beliau paling tidak terima jawaban TIDAK tahu, TIDAK lihat, TIDAK bisa, dan yang paling beliau TIDAK terima adalah jawaban “LUPA pah”. Kalau jawaban itu kita sebut, beliau akan menjawab “masih muda sudah pikun, payah kamu”. Nah karena itu, semua anaknya ambil langkah aman dengan menjawab ‘disitu’ dan tidak berusaha menghampiri (kecuali kalau beliau lagi marah besar, kita biasanya menyebutnya menyanyi), karena kalau kita menghampiri dan tidak bisa memberikan apa yang dia minta, siap-siap saja harus cari-cari kesemua tempat sampai bongkar-bongkar laci
Hal ini masih sering saya lakukan, dan suami sering komplain, “kenapa sich, untuk bilang ngga tahu atau lupa aja kamu susah banget”, dan penjelasan diatas yang saya berikan.
Kejadian ini terjadi ketika suami saya akan menggunakan laptop dan Ia mencari charger -nya, ketika itu saya sedang akan mandi sore dan sudah berada dikamar mandi :
Suami : “charger dimana Neng ?”
Saya : “disitu” (sekenanya, tanpa menunjukan arahnya kemana)
Suami : “ga ada, dimana sih” (setelah putar-puter , meja kerja dll)
Saya : “ya disitu By, kamarkan gak sehektar” (ini juga istilah yang dipakai papa ‘kan luasnya gak sehektar’)
Suami : “Iya, kamar kita memang gak sehektar, tapi kalo gak ada ya gak ada. Kamu inget gak sich tu charger dimana ?”
Saya : “hmmmmm……gak tau ah…lupa”
Suami : “huh….bilang lupa aja kok susah amat” (sambil melengos keluar kamar)
Ketika dia hendak keluar kamar, saya kembali berteriak “eh Abby,charger-nya ada diruang tamu, tadi bekas Neng pake “. (hahahaha…)
Lain hari dihari minggu, saya, mama dan adik perempuan saya berada diruang makan.
Suami : “Sikat dimana yach ?”
Mama : “Sikat ? Disitu Ky”
Suami saya diam tidak beranjak, saya cuma senyum saja, sampai …
Adik Saya : “Kalo gak ada dikamar mandi, kayaknya didepan dech bekas papah cuci motor”
Saya sempat berfikir, jangan-jangan suami berfikir “I think, I know ‘DISITU’ comes from….” (from Mama maksudnya), tapi ternyata itu cuma khayalan saya saja..hahahaha.
Sekarang, masih tetap seperti itu, setiap ada yang bertanya “……Dimana yach”, jawabannya tetap sama “DISITU”, dan kelanjutannya yach seperti diatas….